Selasa, 06 Desember 2016

Makalah Lengkap PERAMALAN (FORECASTING) manajemen operasional

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh ...

       Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya Kami bisa menyelesaikan tugas Makalah mata kuliah Pendidikan Pancasila yang berjudul  Peramalan.Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Operasional.
      Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu Kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca, mahasiswa dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
           
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh ...







                                                                                                                                                Penyusun


                                                                                                      5 November 2016
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................................................................
Daftar Isi........................................................................................................................................
BAB I............................................................................................................................................ 3
Pendahuluan.................................................................................................................................. 3
BAB II........................................................................................................................................... 4
Pembahasan................................................................................................................................... 4
I.               Pengertian Ramalan.............................................................................................................. 4
II.            Manfaat Ramalan Permintaan............................................................................................... 4
III.        Peramalan Berdasarkan Urusan Waktu............................................................................... 4
IV.        Pengaruh Daur Hidup Produk............................................................................................. 5
V.           Jenis-Jenis Peramalan........................................................................................................... 5
VI.        Pendekatan Dalam Peramalan............................................................................................. 5
VII.     Peramalan Berdasarkan Metode.......................................................................................... 6
VIII.  Ramalan Serial Waktu.......................................................................................................... 7
IX.        Metode Rata – Rata Bergerak............................................................................................. 9
X.           Proyeksi Tren....................................................................................................................... 10
Kesimpulan................................................................................................................................... 11



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Peramalan (forecasting) adalah seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian dimasa depan. Hal ini dapatdilakukan dengan melibatkan pengambilan data historisdan memproyeksikannya ke masa mendatang dengan suatu bentuk model matematis. Hal ini bisa juga merupakan prediksi intuisi yang bersifatsubjektif. Hal inipun dapat dilakukan dengan menggunakan kombinasi model matematis yang disesuaikan dengan pertimbangan yang baik dari seorang manajer.
Sesuatu yang berjalan dengan baik di suatu perusahaan pada suatu set kondisi tertentu mungkin bisa menjadi bencana bagi organisasi lain, bahkan pada departemenyang berbeda di perusahaan yang sama. Selain itu, anda akan melihat keterbatasan dari apa yang dapat anda harapkan dari suatu peramalan. Peramalan sangat jarang memberikan hasil yang sempurna. Peramalan juga menghabiskan  banyak biaya dan waktu dan waktu untuk dipersiapkan dan diawasi.
Hanya sedikit bisnis yang dapat menghindari proses peramalan dan hanya menunggu apa yang terjadi untuk kemudian mengambil kesempatan. Perencanaan yang efektif baik untuk jangka panjang maupun pendek bergantung pada peramalan permintaan untuk produk perusahaan tersebut.
1.2 Tujuan
Pembahasan ini bertujuan untuk menguraikan , membahas serta menjelaskan tentang hal- hal yang berhubungan dengan Peramalan Demanad (Forecast Demand),  sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu sumber untuk menambah ilmu pengetahuan, dan dapat dijadikan sebagai  sebuah keahlian.  Disamping tujuan utama tersebut, pembahasan ini juga bertujuan untuk memenuhi tuntutan tugas terstruktur yang diemban kepada pemakalah.




BAB II
PEMBAHASAN

   I.            Pengertian Peramalan
Pengertian peramalan (forecasting) : adalah seni dan ilmu memprediksi peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dengan menggunakan data historis dan memproyeksikannya ke masa depan dengan beberapa bentuk model matematis.
Peramalan merupakan aktivitas fungsi bisnis yang memperkirakan penjualan dan penggunaan produk sehingga produk-produk itu dapat dibuat dalam kuantitas yang tepat. Peramalan merupakan dugaan terhadap permintaan yang akan datang berdasarkan pada beberapa variabel peramal, sering berdasarkan data deret waktu historis. Peramalan menggunakan teknik-teknik peramalan yang bersifat formal maupun informal (Gaspersz, 1998).
Kegiatan peramalan merupakan bagian integral dari pengambilan keputusan manajemen.Peramalan mengurangi ketergantungan pada hal-hal yang belum pasti (intuitif).Peramalan memiliki sifat saling ketergantungan antar divisi atau bagian. Kesalahan dalam proyeksi penjualan akan mempengaruhi pada ramalan anggaran, pengeluaran operasi, arus kas, persediaan, dan sebagainya. Dua hal pokok yang harus diperhatikan dalam proses peramalan yang akurat dan bermanfaat(Makridakis, 1999):
·         Pengumpulan data yang relevan berupa informasi yang dapat menghasilkan peramalan yang akurat.
·         Pemilihan teknik peramalan yang tepat yang akan memanfaatkan informasi data yang diperoleh semaksimal mungkin.

    II.            Manfaat Ramalan Permintaan

Ada tiga manfaat dari peramalan, yaitu:
1)      Menentukan apa yang dibutuhkan untuk ekspansi pabrik (ramalan jangka panjang).
2)      Menentukan perencanaan lanjutan bagi produk-produk yang ada untuk dikerjakan dengan fasilitas-fasilitas yang ada (ramalan fasilitas)
3)      Menentukan penjadwalan jangka pendek produk-produk yang ada untuk dikerjakan berdasarkan peralatan yang ada (ramalan perencanaan produksi)

 III.            Peramalan Berdasarkan Urusan Waktu
1. Peramalan jangka pendek ( kurang satu tahun, umumnya kurang tiga bulan : digunakan untuk rencana pembelian, penjadwalan kerja, jumlah TK, tingkat produksi),
2. Peramalan jangka menengah ( tiga bulan hingga tiga tahun : digunakan untuk perencanaan penjualan, perencanaan dan penganggaran produksi dan menganalisis berbagai rencana operasi),
3. Peramalan jangka panjang ( tiga tahun atau lebih, digunakan untuk merencanakan produk baru, penganggaran modal, lokasi fasilitas, atau ekspansi dan penelitian serta pengembangan).

 IV.            Pengaruh Daur Hidup Produk
Daur hidup produk adalah perjalanan penjualan dari suatu produk dalam masa hidupnya. Siklus hidup produk merupakan suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk.Daur kehidupan produk dapat dibagi ke dalam empat tahap utama, yaitu :
1.      Pengenalan
2.      Pertumbuhan
3.      Kedewasaaan
4.      Tahap Penurunan
Kombinasi bauran pemasaran biasanya juga akan berubah sejalan dengan pergeseran tahapan dalam siklus kehidupan produknya. Beberapa alasan yang mendasari tentang hal ini adalah bahwa sikap dan kebutuhan konsumen akan mengalami perubahan selama siklus berjalan. Kebijakan produk mungkin saja diarahkan para target pasar yang berbeda karena perbedaan tahap yang dilalui juga berbeda, ini berakibat bentuk persaingan juga akan mulai bergeser dari yang bersifat monopoli menuju pada situasi pasar yang mengarah pada oligopoly.
Dalam kaitannya dengan penjualan produk, perbedaan dalam siklus juga berarti ada perbedaan dalam orientasi pencapaian target penjualan produk perusahaan. Pada umumnya target penjualan rendah pada tahap perkenalan, kemudian meningkat pada tahap kedewasaan  dan pada akhirnya menurun.
    V.            Jenis-Jenis Peramalan
Pada umumnya ,berbagai organisasi menggunakan tiga jenis peramalan yang utama dalam perencanaan operasi dimasa depan.
1. Peramalan ekonomi : membahas siklus bisnis dengan memprediksi tingkat inflasi dan indikator perencanaan lainnya,
2. Peramalan teknologi : berkaitan dengan tingkat kemajuan teknologi dan  produk baru,
3. Peramalan permintaan : berkaitan dengan proyeksi permintaan terhadap produk perusahaan. Ramalan ini disebut juga ramalan penjualan, yang mengarahkan produksi, kapasitas dan siatem penjadualan perusahaan.
 VI.            Pendekatan Dalam Peramalan
Terdapat dua pendekatan umum untuk peramlan sebagaimanaada dua cara mengatasi semua model keputusan. Pendekatan yang satu adalah analisis kuantitatif dan pendekatan lain adalah analisis kualitiatatif. Peramalan kuantitatif (quantitative forecast) menggunakan model matematis yang beragam dengan data masa lalu dan variabel sebab akibat untuk meramalkan permintaan. Peramalan subjektif kulitatif (qualitative forecast) menggabungkan faktor seperti,intuisi,emosi,pengalaman pribadi,dan sistem nilai pengambil keputusan untuk meramal. Beberapa perusahaan menggunakan satu pendekatan dan perusahaan lain menggunakan pendekatan yang lain. Pada kenyataannya,kombinasi dari keduanya merupakan kombinasi yang paling efektif.

VII.            Peramalan Berdasarkan Metode dibagi menjadi 2 yaitu;

A.    Metode Kualitatif
Metode kualitatif umumnya bersifat subjektif, dipengaruhi oleh intuisi, emosi, pendidikan dan pengalaman seseorang. Oleh karena itu hasil peramalan dari satu orang dengan orang lain dapat berbeda. Meskipun demikian, peramalan kualitatif dapat menggunakan teknik/metodeperamalan,yaitu :
1.      Juri dari Opini Eksekutif : metode ini mengambil opini atau pendapat dari sekelompok kecil manajer puncak/top manager (pemasaran, produksi, teknik, keuangan dan logistik), yang seringkali dikombinasikan dengan model-model statistik.
2.      Gabungan Tenaga Penjualan : setiap tenaga penjual meramalkan tingkat penjualan di daerahnya, yang kemudian digabung pada tingkat provinsi dan nasional untuk mencapai ramalan secara menyeluruh.
3.      Metode Delphi : dalam metode ini serangkaian kuesioner disebarkan kepada responden, jawabannya kemudian diringkas dan diberikan kepada para ahli untuk dibuat peramalannya. Metode memakan waktu dan melibatkan banyak pihak, yaitu para staf, yang membuat kuesioner, mengirim, merangkum hasilnya untuk dipakai para ahli dalam menganalisisnya. Keuntungan metode ini hasilnya lebih akurat dan lebih profesional sehingga hasil peramalan diharapkan mendekati aktualnya.
4.      Survai Pasar (market survey) : Masukan diperoleh dari konsumen atau konsumen potensial terhadap rencana pembelian pada periode yang diamati. Survai dapat dilakukan dengan kuesioner, telepon, atau wawancara langsung.
B.     Metode Kuantitatif
Berikut ini akan menguraikan lima metode peramlan yang menggunakan data historis. Kelima metode ini dibagi kedalam dua kategori.
1.     
Pendekatan naif
2.      Rata-rata bergerak                                 
3.      Penghalusan eksponensial
4.      Proyeksi tren
5.      Regresi linier                                      

kombinasi pola selalu berulang sepanjang waktu, dan pola dasar dapat diidentifikasi semata-mata atas dasar data historis dari serial itu.  Tujuan analisis ini untuk menemukan pola deret variabel yang bersangkutan berdasarkan nilai-nilai variabel pada masa sebelumnya, dan mengekstrapolasikan pola itu untuk membuat peramalan nilai variabel tersebut pada masa datang.

Metode kausal (causal/explanatory model) mengasumsikan bahwa faktor yang diprakirakan menunjukkan adanya hubungan sebab akibat dengan satu atau beberapa variabel bebas (independen).Misalnya, permintaan printer berhubungan dengan jumlah penjualan komputer, atau jumlah pendapatan berhubungan dengan faktor-faktor, seperti jumlah penjualan, harga jual, dan tingkat promosi.Kegunaan metode kausal untuk menemukan bentuk hubungan antara variabel-variabel dan menggunakannya untuk meramalkan nilai dari variabel tidak bebas (dependen).

VIII.            Ramalan Serial Waktu
Analisis serial waktu dimulai dengan memplot data pada suatu skala waktu, mempelajari plot tersebut, dan akhirnya mencari suatu bentuk atau pola yang konsisten atas data. Pola dari serangkaian data dalam serial waktu dapat dikelompokkan dalam pola dasar sebagai berikut

1.     Konstan, yaitu apabila data berfluktuasi di sekitar rata-rata secara stabil. Polanya berupa garis lurus horizontal.Pola seperti ini terdapat dalam jangka pendek atau menengah, jarang sekali suatu variabel memiliki pola konstan dalam jangka panjang.

2.     Kecenderungan (trend), yaitu apabila data dalam jangka panjang mempunyai kecenderungan, baik yang arahnya meningkat dari waktu ke waktu maupun menurun. Pola ini disebabkan antara lain oleh bertambahnya populasi, perubahan pendapatan, dan pengaruh budaya.

3.     Musiman (seasonal), yaitu apabila polanya merupakan gerakan yang berulang-ulang secara teratur dalam setiap periode tertentu, misalnya tahunan, semesteran, kuartalan, bulanan atau mingguan. Pola ini berhubungan dengan faktor iklim/cuaca atau faktor yang dibuat oleh manusia, seperti liburan dan hari besar.

4.     Siklus (cyclical), yaitu apabila data dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang, seperti daur hidup bisnis. Perbedaan utama antara pola musiman dan siklus adalah pola musiman mempunyai panjang gelombang yang tetap dan terjadi pada jarak waktu yang tetap, sedangkan pola siklus memiliki durasi yang lebih panjang dan bervariasi dari satu siklus ke siklus yang lain.

5.     Residu atau variasi acak, yaitu merupakan satu titik khusus dalam data yang disebabkan oleh pekuang dan situasi tidak lazim,dan data tidak mempunyai pola khusus sehingga tidak dapat diprediksi.



 IX.            Metode Rata – Rata Bergerak

1.    Metode Rata-Rata Bergerak Sederhana (Simple Moving Average)
            Metode rata-rata bergerak adalah Teknik yang merata-ratakan sejumlah nilai aktual terbaru dan memperbaruinya ketika tersedia nilai baru.
            Prakiraan didasarkan pada proyeksi serial data yang dimuluskan dengan rata-rata bergerak. Satu set data (N periode terakhir) dicari rata-ratanya, selanjutnya dipakai sebagai prakiraan untuk periode berikutnya. Istilah rata-rata bergerak digunakan karena  setiap diperoleh  observasi (data aktual) baru  maka  rata-rata  yang baru dapat dihitung dengan mengeluarkan/meninggalkan data periode yang terlama dan memasukkan data periode yang terbaru/terakhir. Rata-rata yang baru ini kemudian dipakai sebagai prakiraan untuk periode yang akan datang, dan seterusnya. Serial data yang digunakan jumlahnya selalu tetap termasuk data periode terakhir.
            Semakin panjang/banyak serial waktu yang digunakan, grafik prakiraannya akan semakin halus (pengisolasian faktor random makin halus) tetapi semakin kurang responsif terhadap data aktualnya .Serial waktu yang digunakan dipilih secara trial and error sampai diperoleh kesalahan prakiraan yang terkecil. Pengukuran ketelitian prakiraan diterangkan pada bagian akhir bab ini. 

       2.         Metode Rata-Rata Bergerak Tertimbang
            Metode rata-rata bergerak sederhana menggunakan bobot yang sama pada setiap periode. Hal ini menunjukkan bentuk prakiraannya linier. Dalam banyak hal, periode yang diramalkan (periode t + 1) banyak memiliki keadaan yang sama dengan periode t dibandingkan periode yang lain, misalnya t-1 atau t-2. Oleh karena itu, periode terakhir seyogianya mendapat bobot yang lebih besar dibandingkan dengan periode sebelumnya (di sini menyiratkan adanya bentuk prakiraan yang non linier).Metode rata-rata tertimbang dikembangkan untuk dapat memenuhi keinginan itu.
            Metode rata-rata bergerak tertimbang (weighted moving average) juga menggunakan data N periode terakhir sebagai data historis untuk melakukan prakiraan, tetapi setiap periode mendapat bobot yang berbeda.

            Kelebihan dari rata-rata tertimbang dibandingkan rata-rata bergerak sederhana adalah bahwa rata-rata tertimbang lebih reflektif terhadap peristiwa baru. Namun, pilihan bobot biasanya agak sembarangan dan melibatkan penggunaan uji coba untuk menemukan skema pembobotan yang sesuai.

Pemulusan Eksponensial (Exponential smoothing) adalah metode untuk menghitung rata-rata tertimbang yang canggih serta masih relatif mudah digunakan dan dipahami. Setiap ramalan baru didasarkan pada ramalan sebelumnya ditambah dengan presentase selisih antara ramalan dengan nilai aktual dari deret pada titik tersebut. Artinya :

Ramalan berikutnya = Ramalan sebelumnya + α (Aktual – Ramalan sebelumnya)

(Aktual – Ramalan sebelumnya) mewakili kesalahan ramalan dan α adalah presentase dari kesalahan. Lebih ringkasnya :

            Ft = Ft-1 + α (At-1 – Ft-1)

Keterangan :
            Ft            = Ramalan untuk periode t
            Ft-1         = Ramalan untuk periode sebelumnya (misalnya, periode t – 1)
            α          = Konstan pemulusan
            At-1      = Permintaan aktual atau penjualan untuk periode sebelumnya

Konstanta pemulusan α mewakili presentase kesalahan ramalan.Setiap ramalan baru sama dengan ramalan sebelumnyaditambah presentase kesalahan sebelumnya. Contohnya, ramalan sebelumnya adalahan 42 unit, permintaan aktual adalah 40 unit, dan α = 0,10. Ramalan baru akan dihitung sebagai berikut.

            Ft = 42 + 0,10 (40-42) = 41,8

Kemudian, apabila permintaan aktual berubah menjadi 43, ramalan berikutnya akan menjadi :

            Ft = 41,8 + 0,10 (43 + 41,8) = 41,92

Bentuk alternatif rumus 3-2a menyatakan pembobotan dari ramalan sebelumnya dan permintaan aktual terbaru :

            Ft = (1 – α)Ft-1 + αAt-1


Contohnya, jika α = 0,10, rumusnya akan menjadi :

            Ft = 0,90Ft-1 + 0,10At-1

            Kecepatan penyesuaian ramalan terhadap kesalahan ditentukan dengan konstanta pemulusan α. Semakin dekat dengan nilai α dengan nol, semakin lambat ramalan akan menyesuaikan diri dengan kesalahan ramalan (misalnya, pemulusan lebih besar). Sebaliknya, semakin dekat nilai α dengan 1,00, semakin besar kemampuan untuk merespon dan pemulusan lebih kecil.

            Pada dasarnya, memilih konstanta pemulusan adalah masalah penilaian uji coba, yaitu menggunakan kesalahan ramalan untuk mengarahkan keputusan. Sasarannya adalah memilih konstanta pemulusan yang menyeimbangkan keuntungan dari pemulusan variasi acak dengan keuntungan dari respons terhadap perubahan riil apabila hal itu terjadi.

     X.            Proyeksi Tren
Analisis trend mencakup mengembangkan persamaan yang akan menguraikan trend secara pantas (mengasumsikan bahwa ternd ada di dalam data). Komponen trend mungkin linier ataupun tidak.
Ada dua teknik penting yang dapat digunakan untuk mengembangkan ramalan ketika ada trend. Salah satu teknik melibatkan pengunaan persamaan trend, sedangkan teknik lainnya adalah perluasan dari pemulusan eksponensial.
Persamaan Trend. Persamaan trend linier (linier trend equation) digunakan untuk mengembangkan ramlan ketika terdapat trend. memiliki bentuk sebagai berikut.
      Ft = α + bt
Contohnya, perhatikan persamaan trend Ft = 45 + 5t. Nilai Ft  ketika t = 0 adalah 45 dan kemiringan garisnya adalah , yang berarti bahwa rata-rata nilai Ft akan meningkat lima unit untuk setiap periode waktu. Apabila t = 10, ramalannya, F1, adalah 45 + 5(10) = 95 unit.



KESIMPULAN
Peramalan adalah bagian terpenting dari fungsi manajer operasi. Peramalan permintaan mengarahkan produksi,kapasitas,dan sistem pendjadwalan perusahaan,serta memengaruhi fungsi keuangan,pemasaran,dan perencanaan karyawan. Ada beberapa teknik peramalan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif menggunakan penilaian,pengamalan,perasaan,dan faktor lian yang sulit diukur. Peramalan kuantitatif menggunakan data masa lalu,sebab-akibat,atau asosiatif untuk diproyeksikan pada permintaan masa datang. Perhitungan peramalan jarang dilaksanakan secara manual. Hampir semua manajer operasi menggunakan paket piranti lunak,seperti Forecast,PRO,SAP,txMetrix,AFS,SAS,SPSS,atau Exel.




DAFTAR PUSTAKA
Wiliam J.Stevenson.Sum chee Chuong-manajemen operasi perspektif asia edisi 9 buku 1,penerbit salemba empat.


Selasa, 01 November 2016

Struktur Penduduk, dan Ketenagakerjaan, Pengangguran, berbagai kebijaksanaannya



KATA PENGANTAR

Segala pujian syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat penyertaanNya maka kami sekelompok dapat menyelesaikan sebuah makalah  ini dengan baik dan tepat waktu.
Berikut ini kami sekelompok mempersembahkan sebuah makalah Perekonomian Indonesia dengan topik  Struktur Penduduk dan Ketenaga Kerjaan yang menurut kami dapat  memberikan manfaat yang besar bagi kita sebagai mahasiswa untuk dapat mengetahui serta memahami lebih dalam mengenai Struktur Penduduk dan Ketenaga Kerjaan
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf jika dalam pembuatan makalah ini terdapat kata yang salah serta terdapat kesalahan dalam penulisan.
Dengan ini kami  mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Tuhan memberkati makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kita yang membaca.
                                             







                                                                                                            Jakarta,22 Oktober 2016


                                                                                                                        Penulis

DAFTAR ISI


Kata Pengantar.............................................................................................................................. 1
Daftar Isi....................................................................................................................................... 2
BAB I........................................................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang........................................................................................................................ 3
1.2 Variabel dan Karakteristik Kependudukan............................................................................ 4
      1.2.1 Pertumbuhan Penduduk................................................................................................. 4
      1.2.2 Kepadatan Penduduk.................................................................................................... 4
      1.2.3 Komposisi...................................................................................................................... 5
1.3 Jumlah dan Komposisi Penduduk Indonesia.......................................................................... 6
1.4 Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran........................................................................... 7
1.5 Kebijaksanaan dan Langkah-langkah Ketenagakerjaan serta mengatasi pengangguran......... 8
Kesimpulan................................................................................................................................... 10
Daftar Pustaka.............................................................................................................................. 11


BAB I
PEMBAHASAN

1.1  Latar belakang

   Penduduk berfungsi ganda dalam perekonomian. Dalam konteks pasar ia berada baik disisi permintaan maupun disisi penawaran. Di sisi permintaan, penduduk adalah komsumen, sumber permintaan akan barang-barang dan jasa. Disisi penawaran, penduduk adalah produsen, jika ia pengusaha atau pedagang atau tenaga kerja, jika ia semata-mata pekerja. Dalam konteks pembangunan, pandangan terhadap penduduk terpecah dua, ada yang menganggapnya sebgai penghambat pembangunan, ada pula yang menganggapnya sebagai pemacu pembangunan.

   Dalam literatur-literatur kuno, pada umumnya penduduk dipandang sebagai penghambat pembangunan. Keberadaannya, apalagi dalam jumlah besar dan dengan pertumbuhan yang tinggi, dinilai hanya menambah beban pembangunan. Dinyatakan dengan kalimat yang lebih lugas, jumlah penduduk yang besar memperkecil pendapatan per kapita dan menimbulkan masalah ketenagakerjaan. Dalam literatur-literatur moderen, penduduk justru dipandang sebagai pemacu pembangunan. Berlangsungnya kegiatan produksi adalah berkat adanya orang yang membeli dan mengkonsumsi barang-barang yang dihasilkan. Konsumsi dari penduduk inilah yang menimbulkan permintaan agregat. Pada gilirannya, peningkatan konsumsi agregat memungkinkan usaha-usaha produk berkembang, begitu pula perekonomian secara keseluruhan. Jadi, perkembangan ekonomi turut ditentukan oleh permintaan yang datang dari penduduk.

   Tentu saja tidak sembarang penduduk dengan sendirinya akan mengembangkan perekonomian. Di sisi konsumsi, permintaan akan meningkat hanya jika penduduk selaku konsumen mempunyai daya beli yang menjangkau. Sedangkan disisi produk, penawaran akan tanggap hanya jika penduduk selaku produsen atau sumber daya manusia memiliki kapasitas produktif yang memadai dan efisien.




1.2  Variabel-variabel dan Karakteristik Kependudukan

Tekanan masalah kependudukan atas pembangunan sesungguhnya tidak terlalu berhubungan dengan aspek jumlah, melainkan lebih terkait dengan variabel –variabel lain kependudukan dan karakteristik penduduk yang bersangkutan. Variabel-variabel lain itu misalnya sebaran, komposisi, kepadatan, dan pertumbuhan penduduk. Sedangkan karakteristik yang dimaksud misalnya  tingkat kepadatan, kesehatan , dan pendidikan.

Variabel – variabel kependudukan antara lain:

1.2.1 Pertumbuhan Penduduk

a.       Pertumbuhan penduduk alami
Pertumbuhan penduduk yang diperoleh dari hasil selisih tingkat kelahiran dengan kematian dalam satu tahun disebut pertumbuhan penduduk alami.
b.      Pertumbuhan penduduk non alami
Pertumbuhan penduduk non alami diperoleh dari selisih penduduk yang melakukan imigrasi (migrasi masuk) dengan emigrasi (migrasi keluar). Pertumbuhan penduduk non alami disebut juga dengan pertumbuhan penduduk karena migrasi.
c.       Pertumbuhan penduduk total
Pertumbuhan total adalah pertumbuhan penduduk yang dihitung dari selisih jumlah kelahiran dengan kematian ditambah dengan selisih dari pertumbuhan non alami.

      1.2.2  Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk adalah perbandingan jumlah penduduk dengan luas lahan.
Macam-macam kepadatan penduduk antara lain:

a. Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas tanah yang dapat diolah.

b. Kepadatan penduduk ekonomi adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah tetapi menurut kapasitas produksinya.

c. Kepadatan penduduk aritmatik adalah perbandingan jumlah penduduk dengan luas seluruh wilayah dalam setiap km2.

d. Kepadatan penduduk agraris adalah perbandingan antara penduduk yang mempunyai aktivitas di sektor pertanian dengan luas tanah (daerah) yang dapat diolah untuk pertanian.






1.2.3 Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk berdasarkan usia/ umur, jenis kelamin, mata pencaharian, agama, bahasa, pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan lain-lain. Berikut ini akan dijelaskan mengenai komposisi penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin.
a.       Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia
Komposisi penduduk berdasarkan usia/umur dapat dibuat dalam bentuk usia tunggal, seperti 0, 1, 2, 3, 4, sampai 60 tahun atau lebih. Komposisi penduduk dapat juga dibuat berdasarkan interval usiatertentu, seperti 0–5 (usia balita), 6–12 (usia SD), 13–15 (usia SMP), 16–18 (usia SMA), 19–24 (usia Perguruan Tinggi), 25–60 (usia dewasa), dan >60 (usia lanjut). Selain itu komposisi penduduk juga dapat dibuat berdasarkan usia produktif dan usia nonproduktif, misalnya: usia 0–14 (usia belum produktif), 15–64 (usia produktif), dan usia >65 (tidak produktif).
b.      Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat dituangkan dalam bentuk diagram yang dikenal dengan piramida penduduk.Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin juga penting untuk diketahui, karena dapat digunakan dalam menghitung angka perbandingan jenis kelamin (sex ratio). Perbandingan tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan bentuk pemberdayaan penduduk sebagai sumber daya manusia sesuai dengan karakteristiknya. Misalnya, berkenaan dengan pekerjaan, tanggung jawab, serta bentuk pengembangan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan penduduk.

Karakteristik – karakteristik antara lain :

a.   Tingkat Pendapatan
Pendapatan penduduk Indonesia walaupun mengalami peningkatan tetapi masih tergolong rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.
Dengan pendapatan per kapita yang masih rendah berakibat penduduk tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga sulit mencapai kesejahteraan. Rendahnya pendapatan per kapita penduduk di Indonesia terutama disebabkan oleh :
1)      Pendapatan nasional yang masih rendah. Hal ini disebabkan sumber daya alam yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
2)      Jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan penduduk yang tinggi tiap tahunnya.
3)      Masih rendahnya penguasaan teknologi oleh penduduk sehingga pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam kurang optimal.


b.   Tingkat Pendidikan
Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan penduduk melalui berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, seperti program beasiswa, adanya bantuan operasional sekolah (BOS), program wajib belajar, dan sebagainya. Walaupun demikian, karena banyaknya hambatan yang dialami, maka hingga saat ini tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih tergolong rendah.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia sebagai berikut :
1)      Rendahnya pendapatan per kapita penduduk, menyebabkan orang tua tidak mampu membiayai anaknya sekolah, sehingga banyak anak yang putus sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.
2)      Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana pendidikan yang ada seperti kelas, guru, dan buku-buku pelajaran. Hal ini menyebabkan tidak semua anak usia sekolah tertampung belajar di sekolah, terutama di daerah pelosok dan terpencil yang sulit dijangkau program pemerintah.
3)      Masih kurangnya kesadaran penduduk terhadap pentingnya pendidikan, sehingga anak tidak disekolahkan tetapi justru diarahkan untuk bekerja membantu memenuhi ekonomi keluarga.
c.   Tingkat Kesehatan
Tingkat kesehatan penduduk merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan pembangunan. Tingkat kesehatan suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian bayi dan usia harapan hidup penduduknya.
Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian bayi dan angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju. Rendahnya kualitas kesehatan penduduk umumnya disebabkan oleh :
1)      Lingkungan yang tidak sehat.
2)      Gejala kekurangan gizi yang sering dialami penduduk.
3)      Penyakit menular yang sering terjangkit.
4)      Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

1.3 Jumlah dan Komposisi Penduduk Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan berdasarkan data Susenas 2014 dan 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa.
Data BPS menunjukkan, dari total tersebut, penduduk laki-laki mencapai 128,1 juta jiwa sementara perempuan sebanyak 126,8 juta jiwa.
“Jumlah tersebut naik dari 2014 yang berjumlah 252 juta jiwa,” demikian seperti keterangan tertulis BPS, Jumat (20/11/2015) dikutip finansial.bisnis.com.
Selain itu, BPS menunjukkan, rasio jenis kelamin penduduk Indonesia pada 2014 dan 2015 realatif sama, yaitu sebesar 101,02 dan 101. Rasio jenis kelamin, BPS menuliskan, menunjukkan bahwa dari 100 penduduk perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki.
Adapun, komposisi penduduk kota atau desa menunjukkan penduduk Indonesia pada 2015 lebih banyak di pedesaan, yakni 128,5 juta jiwa. Sementara di perkotaan besar hanya sebanyak 126,3 juta jiwa.
Meskipun jumlah penduduk di pedesaan lebih besar, pertambahan penduduk dari 2014 ke 2015 di perkotaan lebih besar dibandingkan dengan perdesaan. Tercatat, pertambahan penduduk di perkotaan mencapai 1,75% sementara di perdesaan 0,52%.

1.4 Angkatan Kerja dan Tingkat Penggangguran

Menurut Undang-undang RI Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan masalah tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. dan menurut Payaman Simanjuntak tenaga kerja (manpower) adalah penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekedaan, dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga.

      Analisis ketenagakerjaan secara garis besar pendudukan suatu negara dibagi atas dua golongan yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong sebagai tenaga kerja ialah penduduk yang berumur di dalam batas usia kerja. Batas usia kerja berbeda-beda antara negara yang satu dengan negara yang lain.  batas usia kerja yang di anut oleh indonesia ialah minimum 10 tahun, tanpa batas  umur maksimum. 

      Tenaga Kerja (manpower) dibagi menjadi dua kelompok yaitu Angkatan Kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk Angkatan Kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja, atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara sedang tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan. Sedangkan yang bukan angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari pekerjaan, yakni orang-orang yang kegiataannya seperi pelajar, ibu rumah tangga, dll.

Selanjutnya Angkatan kerja dibagi atas dua yaitu : 
a.      Pekerja ialah orang-orang yang mempunyai pekerjaan, mencakup orang yang mempunyai pekerjaan dan saat disensus atau disurvei memang sedang bekerja, serta orang yang mempunyai pekerjaan tapi sementara tidak bekerja.  
b.      Pengangguran ialah orang yang tidak mempunyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan (masih atau sedang) mencari pekerjaan.

Tenaga Kerja bukan Angkatan kerja dibagi atas 3 kelompok yaitu : 
a.      Penduduk dalam usia kerja yang bersekolah misalnya pelajar dan mahasiswa 
b.      Pengurus rumah tangga 
c.       Penerima pendapatan lain.



 Berikut tabel jumlah tenaga kerja di Indonesia, yang bekerja dan menganggur :


1.5 Kebijaksanaan dan Langkah-Langkah Ketenagakerjaan serta mengatasi Pengangguran

Berbagai kebijaksanaan telah,sedang,dan akan ditempuh oleh pemerintah dalam upaya mengatasi masalah-masalah ketenagakerjaan. Penciptaan dan perluasan lapangan kerja terus diupayakan terutama melalui peningkatan pemerataan pembangunan industri,pertanian,dan jasa yang mampu menyerap tenaga kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Berikut adalah program-progam yang akan dijalankan untuk mengatasi masalah-masalah ketenagakerjaan meliputi ;
a.       Pembinaan dan pengembangan kesempatan kerja dan produktivitas.
Program – programnya mencakup pengembangan produktivitas dan pembinaan lembaga produktivitas.
b.      Pendayagunaan dan  penyebaran tenaga kerja.
Program-programnya antara lain perencanaan tenaga kerja,sistem informasi dan bursa tenaga kerja terpadu;penciptaan tenaga kerja mandiri dan professional;pemerataan kesempatan kerja antara daerah pengindonesiaan tenaga kerja asing;peningkatan ekspor jasa tenaga kerja;dan pemasyarakatan teknologi padat karya dalam upaya mendayagunakan tenaga kerja yang menganggur dan setengah menganggur.
c.       Pelatihan dan penigkatan keterampilan tenaga kerja,melalui program kemitraan pelatihan;pemagangan;serta perbaikan metode dan sistem informasi pelatihan.
d.      Pembinaan hubungan industrial dan perlindungan tenaga kerja.

Langkah- langkah mengatasi pengangguran :
Suatu negara mengupayakan seoptimal mungkin untuk meminimalisasi jumlah pengangguran. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengangguran secara umum: 

  1. Memperluas lapangan pekerjaan. Dengan memperluas lapangan pekerjaan, semakin banyak kesempatan pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan yang dibutuhkan.
  2. Deregulasi dan debirokrasi. Dengan pengadaan deregulasi dan debirokrasi, hal ini akan menyebabkan adanya investasi baru yang dapat menjadi stimulus perekonomian.
  3. Program transmigrasi. Program transmigrasi akan menyebabkan pemerataan penduduk, sehingga kesempatan untuk bersaing untuk memasuki dunia akan berkurang dan kesempatan memperoleh pekerjaan akan semakin banyak.
  4. Meningkatkan investasi. Investasi akan mendorong terciptanya lapangan kerja baru yang akan membantu mengurangi pengangguran.
  5. Pengadaan pusat pelatihan kerja. Pusat pelatihan kerja akan membantu menyiapkan pencari kerja agar lebih siap ke dunia kerja.
  6. Membekali keterampilan bagi tenaga kerja. Keterampilan akan sangat bermanfaat bagi pengangguran. Dengan adanya keterampilan, pengangguran bisa membuka usaha sendiri selama belum mendapat pekerjaan.
  7. Meningkatkan mutu pendidikan. Dengan pendidikan yang semakin berkualitas, maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan pun semakin luas.
  8. Mengadakan bursa pasar kerja. Bursa kerja akan sangat membantu pencari kerja untuk mendapatkan informasi mengenai lowongan pekerjaan.




































KESIMPULAN


Pengangguran adalah problem yang terus menumpuk.Bertambah dari tahun ke tahun.Persoalan pengangguran bukan sekedar bertumpu pada makin menyempitnya dunia kerja, tetapi juga rendahnya kualitas SDM (sumber daya manusia) yang kita punyai.
Beberapa masalah lain yang juga berpengaruh terhadap ketenagakerjaan adalah masih rendahnya arus masuk modal asing, perilaku proteksionis sejumlah negara-negara maju dalam menerima ekspor komoditi,
Disamping masalah-masalah tersebut diatas, faktor-faktor seperti kemiskinan, ketidakmerataan pendapatan karyawan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik juga sangat berpengaruh terhadap ketenagakerjaan di Indonesia.
Semua permasalahan hal diatas tampaknya sudah dipahami oleh pembuat kebijakan (Decision Maker). Namun hal yang tampaknya kurang dipahami adalah bahwa masalah ketenagakerjaan atau pengangguran bersifat multidimensi, sehingga juga memerlukan cara pemecahan yang multidimensi pula.





























DAFTAR PUSTAKA

·         Drs. Islamy, M. Irfan, MPA. 1988. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta : PT. Bina Aksara.
·         Jawa Pos. Kamis 27 Maret, 2008.Atasi pengangguran, Butuh Sinergi, Hlm.9.
Dumairy, 1996. perekonomian indonesia, Penerbit Erlangga:Jakarta
·         H amir, amir. 2007, Perekonomian Indonesia (dalam prespektif makro), Penerbit Biografika:Bogor