Selasa, 01 November 2016

Struktur Penduduk, dan Ketenagakerjaan, Pengangguran, berbagai kebijaksanaannya



KATA PENGANTAR

Segala pujian syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat penyertaanNya maka kami sekelompok dapat menyelesaikan sebuah makalah  ini dengan baik dan tepat waktu.
Berikut ini kami sekelompok mempersembahkan sebuah makalah Perekonomian Indonesia dengan topik  Struktur Penduduk dan Ketenaga Kerjaan yang menurut kami dapat  memberikan manfaat yang besar bagi kita sebagai mahasiswa untuk dapat mengetahui serta memahami lebih dalam mengenai Struktur Penduduk dan Ketenaga Kerjaan
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf jika dalam pembuatan makalah ini terdapat kata yang salah serta terdapat kesalahan dalam penulisan.
Dengan ini kami  mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Tuhan memberkati makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kita yang membaca.
                                             







                                                                                                            Jakarta,22 Oktober 2016


                                                                                                                        Penulis

DAFTAR ISI


Kata Pengantar.............................................................................................................................. 1
Daftar Isi....................................................................................................................................... 2
BAB I........................................................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang........................................................................................................................ 3
1.2 Variabel dan Karakteristik Kependudukan............................................................................ 4
      1.2.1 Pertumbuhan Penduduk................................................................................................. 4
      1.2.2 Kepadatan Penduduk.................................................................................................... 4
      1.2.3 Komposisi...................................................................................................................... 5
1.3 Jumlah dan Komposisi Penduduk Indonesia.......................................................................... 6
1.4 Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran........................................................................... 7
1.5 Kebijaksanaan dan Langkah-langkah Ketenagakerjaan serta mengatasi pengangguran......... 8
Kesimpulan................................................................................................................................... 10
Daftar Pustaka.............................................................................................................................. 11


BAB I
PEMBAHASAN

1.1  Latar belakang

   Penduduk berfungsi ganda dalam perekonomian. Dalam konteks pasar ia berada baik disisi permintaan maupun disisi penawaran. Di sisi permintaan, penduduk adalah komsumen, sumber permintaan akan barang-barang dan jasa. Disisi penawaran, penduduk adalah produsen, jika ia pengusaha atau pedagang atau tenaga kerja, jika ia semata-mata pekerja. Dalam konteks pembangunan, pandangan terhadap penduduk terpecah dua, ada yang menganggapnya sebgai penghambat pembangunan, ada pula yang menganggapnya sebagai pemacu pembangunan.

   Dalam literatur-literatur kuno, pada umumnya penduduk dipandang sebagai penghambat pembangunan. Keberadaannya, apalagi dalam jumlah besar dan dengan pertumbuhan yang tinggi, dinilai hanya menambah beban pembangunan. Dinyatakan dengan kalimat yang lebih lugas, jumlah penduduk yang besar memperkecil pendapatan per kapita dan menimbulkan masalah ketenagakerjaan. Dalam literatur-literatur moderen, penduduk justru dipandang sebagai pemacu pembangunan. Berlangsungnya kegiatan produksi adalah berkat adanya orang yang membeli dan mengkonsumsi barang-barang yang dihasilkan. Konsumsi dari penduduk inilah yang menimbulkan permintaan agregat. Pada gilirannya, peningkatan konsumsi agregat memungkinkan usaha-usaha produk berkembang, begitu pula perekonomian secara keseluruhan. Jadi, perkembangan ekonomi turut ditentukan oleh permintaan yang datang dari penduduk.

   Tentu saja tidak sembarang penduduk dengan sendirinya akan mengembangkan perekonomian. Di sisi konsumsi, permintaan akan meningkat hanya jika penduduk selaku konsumen mempunyai daya beli yang menjangkau. Sedangkan disisi produk, penawaran akan tanggap hanya jika penduduk selaku produsen atau sumber daya manusia memiliki kapasitas produktif yang memadai dan efisien.




1.2  Variabel-variabel dan Karakteristik Kependudukan

Tekanan masalah kependudukan atas pembangunan sesungguhnya tidak terlalu berhubungan dengan aspek jumlah, melainkan lebih terkait dengan variabel –variabel lain kependudukan dan karakteristik penduduk yang bersangkutan. Variabel-variabel lain itu misalnya sebaran, komposisi, kepadatan, dan pertumbuhan penduduk. Sedangkan karakteristik yang dimaksud misalnya  tingkat kepadatan, kesehatan , dan pendidikan.

Variabel – variabel kependudukan antara lain:

1.2.1 Pertumbuhan Penduduk

a.       Pertumbuhan penduduk alami
Pertumbuhan penduduk yang diperoleh dari hasil selisih tingkat kelahiran dengan kematian dalam satu tahun disebut pertumbuhan penduduk alami.
b.      Pertumbuhan penduduk non alami
Pertumbuhan penduduk non alami diperoleh dari selisih penduduk yang melakukan imigrasi (migrasi masuk) dengan emigrasi (migrasi keluar). Pertumbuhan penduduk non alami disebut juga dengan pertumbuhan penduduk karena migrasi.
c.       Pertumbuhan penduduk total
Pertumbuhan total adalah pertumbuhan penduduk yang dihitung dari selisih jumlah kelahiran dengan kematian ditambah dengan selisih dari pertumbuhan non alami.

      1.2.2  Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk adalah perbandingan jumlah penduduk dengan luas lahan.
Macam-macam kepadatan penduduk antara lain:

a. Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas tanah yang dapat diolah.

b. Kepadatan penduduk ekonomi adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah tetapi menurut kapasitas produksinya.

c. Kepadatan penduduk aritmatik adalah perbandingan jumlah penduduk dengan luas seluruh wilayah dalam setiap km2.

d. Kepadatan penduduk agraris adalah perbandingan antara penduduk yang mempunyai aktivitas di sektor pertanian dengan luas tanah (daerah) yang dapat diolah untuk pertanian.






1.2.3 Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk berdasarkan usia/ umur, jenis kelamin, mata pencaharian, agama, bahasa, pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan lain-lain. Berikut ini akan dijelaskan mengenai komposisi penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin.
a.       Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia
Komposisi penduduk berdasarkan usia/umur dapat dibuat dalam bentuk usia tunggal, seperti 0, 1, 2, 3, 4, sampai 60 tahun atau lebih. Komposisi penduduk dapat juga dibuat berdasarkan interval usiatertentu, seperti 0–5 (usia balita), 6–12 (usia SD), 13–15 (usia SMP), 16–18 (usia SMA), 19–24 (usia Perguruan Tinggi), 25–60 (usia dewasa), dan >60 (usia lanjut). Selain itu komposisi penduduk juga dapat dibuat berdasarkan usia produktif dan usia nonproduktif, misalnya: usia 0–14 (usia belum produktif), 15–64 (usia produktif), dan usia >65 (tidak produktif).
b.      Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat dituangkan dalam bentuk diagram yang dikenal dengan piramida penduduk.Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin juga penting untuk diketahui, karena dapat digunakan dalam menghitung angka perbandingan jenis kelamin (sex ratio). Perbandingan tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan bentuk pemberdayaan penduduk sebagai sumber daya manusia sesuai dengan karakteristiknya. Misalnya, berkenaan dengan pekerjaan, tanggung jawab, serta bentuk pengembangan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan penduduk.

Karakteristik – karakteristik antara lain :

a.   Tingkat Pendapatan
Pendapatan penduduk Indonesia walaupun mengalami peningkatan tetapi masih tergolong rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.
Dengan pendapatan per kapita yang masih rendah berakibat penduduk tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga sulit mencapai kesejahteraan. Rendahnya pendapatan per kapita penduduk di Indonesia terutama disebabkan oleh :
1)      Pendapatan nasional yang masih rendah. Hal ini disebabkan sumber daya alam yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
2)      Jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan penduduk yang tinggi tiap tahunnya.
3)      Masih rendahnya penguasaan teknologi oleh penduduk sehingga pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam kurang optimal.


b.   Tingkat Pendidikan
Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan penduduk melalui berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, seperti program beasiswa, adanya bantuan operasional sekolah (BOS), program wajib belajar, dan sebagainya. Walaupun demikian, karena banyaknya hambatan yang dialami, maka hingga saat ini tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih tergolong rendah.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia sebagai berikut :
1)      Rendahnya pendapatan per kapita penduduk, menyebabkan orang tua tidak mampu membiayai anaknya sekolah, sehingga banyak anak yang putus sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.
2)      Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana pendidikan yang ada seperti kelas, guru, dan buku-buku pelajaran. Hal ini menyebabkan tidak semua anak usia sekolah tertampung belajar di sekolah, terutama di daerah pelosok dan terpencil yang sulit dijangkau program pemerintah.
3)      Masih kurangnya kesadaran penduduk terhadap pentingnya pendidikan, sehingga anak tidak disekolahkan tetapi justru diarahkan untuk bekerja membantu memenuhi ekonomi keluarga.
c.   Tingkat Kesehatan
Tingkat kesehatan penduduk merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan pembangunan. Tingkat kesehatan suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian bayi dan usia harapan hidup penduduknya.
Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian bayi dan angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju. Rendahnya kualitas kesehatan penduduk umumnya disebabkan oleh :
1)      Lingkungan yang tidak sehat.
2)      Gejala kekurangan gizi yang sering dialami penduduk.
3)      Penyakit menular yang sering terjangkit.
4)      Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

1.3 Jumlah dan Komposisi Penduduk Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan berdasarkan data Susenas 2014 dan 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa.
Data BPS menunjukkan, dari total tersebut, penduduk laki-laki mencapai 128,1 juta jiwa sementara perempuan sebanyak 126,8 juta jiwa.
“Jumlah tersebut naik dari 2014 yang berjumlah 252 juta jiwa,” demikian seperti keterangan tertulis BPS, Jumat (20/11/2015) dikutip finansial.bisnis.com.
Selain itu, BPS menunjukkan, rasio jenis kelamin penduduk Indonesia pada 2014 dan 2015 realatif sama, yaitu sebesar 101,02 dan 101. Rasio jenis kelamin, BPS menuliskan, menunjukkan bahwa dari 100 penduduk perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki.
Adapun, komposisi penduduk kota atau desa menunjukkan penduduk Indonesia pada 2015 lebih banyak di pedesaan, yakni 128,5 juta jiwa. Sementara di perkotaan besar hanya sebanyak 126,3 juta jiwa.
Meskipun jumlah penduduk di pedesaan lebih besar, pertambahan penduduk dari 2014 ke 2015 di perkotaan lebih besar dibandingkan dengan perdesaan. Tercatat, pertambahan penduduk di perkotaan mencapai 1,75% sementara di perdesaan 0,52%.

1.4 Angkatan Kerja dan Tingkat Penggangguran

Menurut Undang-undang RI Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan masalah tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. dan menurut Payaman Simanjuntak tenaga kerja (manpower) adalah penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekedaan, dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga.

      Analisis ketenagakerjaan secara garis besar pendudukan suatu negara dibagi atas dua golongan yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong sebagai tenaga kerja ialah penduduk yang berumur di dalam batas usia kerja. Batas usia kerja berbeda-beda antara negara yang satu dengan negara yang lain.  batas usia kerja yang di anut oleh indonesia ialah minimum 10 tahun, tanpa batas  umur maksimum. 

      Tenaga Kerja (manpower) dibagi menjadi dua kelompok yaitu Angkatan Kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk Angkatan Kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja, atau mempunyai pekerjaan namun untuk sementara sedang tidak bekerja, dan yang mencari pekerjaan. Sedangkan yang bukan angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari pekerjaan, yakni orang-orang yang kegiataannya seperi pelajar, ibu rumah tangga, dll.

Selanjutnya Angkatan kerja dibagi atas dua yaitu : 
a.      Pekerja ialah orang-orang yang mempunyai pekerjaan, mencakup orang yang mempunyai pekerjaan dan saat disensus atau disurvei memang sedang bekerja, serta orang yang mempunyai pekerjaan tapi sementara tidak bekerja.  
b.      Pengangguran ialah orang yang tidak mempunyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan (masih atau sedang) mencari pekerjaan.

Tenaga Kerja bukan Angkatan kerja dibagi atas 3 kelompok yaitu : 
a.      Penduduk dalam usia kerja yang bersekolah misalnya pelajar dan mahasiswa 
b.      Pengurus rumah tangga 
c.       Penerima pendapatan lain.



 Berikut tabel jumlah tenaga kerja di Indonesia, yang bekerja dan menganggur :


1.5 Kebijaksanaan dan Langkah-Langkah Ketenagakerjaan serta mengatasi Pengangguran

Berbagai kebijaksanaan telah,sedang,dan akan ditempuh oleh pemerintah dalam upaya mengatasi masalah-masalah ketenagakerjaan. Penciptaan dan perluasan lapangan kerja terus diupayakan terutama melalui peningkatan pemerataan pembangunan industri,pertanian,dan jasa yang mampu menyerap tenaga kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Berikut adalah program-progam yang akan dijalankan untuk mengatasi masalah-masalah ketenagakerjaan meliputi ;
a.       Pembinaan dan pengembangan kesempatan kerja dan produktivitas.
Program – programnya mencakup pengembangan produktivitas dan pembinaan lembaga produktivitas.
b.      Pendayagunaan dan  penyebaran tenaga kerja.
Program-programnya antara lain perencanaan tenaga kerja,sistem informasi dan bursa tenaga kerja terpadu;penciptaan tenaga kerja mandiri dan professional;pemerataan kesempatan kerja antara daerah pengindonesiaan tenaga kerja asing;peningkatan ekspor jasa tenaga kerja;dan pemasyarakatan teknologi padat karya dalam upaya mendayagunakan tenaga kerja yang menganggur dan setengah menganggur.
c.       Pelatihan dan penigkatan keterampilan tenaga kerja,melalui program kemitraan pelatihan;pemagangan;serta perbaikan metode dan sistem informasi pelatihan.
d.      Pembinaan hubungan industrial dan perlindungan tenaga kerja.

Langkah- langkah mengatasi pengangguran :
Suatu negara mengupayakan seoptimal mungkin untuk meminimalisasi jumlah pengangguran. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengangguran secara umum: 

  1. Memperluas lapangan pekerjaan. Dengan memperluas lapangan pekerjaan, semakin banyak kesempatan pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan yang dibutuhkan.
  2. Deregulasi dan debirokrasi. Dengan pengadaan deregulasi dan debirokrasi, hal ini akan menyebabkan adanya investasi baru yang dapat menjadi stimulus perekonomian.
  3. Program transmigrasi. Program transmigrasi akan menyebabkan pemerataan penduduk, sehingga kesempatan untuk bersaing untuk memasuki dunia akan berkurang dan kesempatan memperoleh pekerjaan akan semakin banyak.
  4. Meningkatkan investasi. Investasi akan mendorong terciptanya lapangan kerja baru yang akan membantu mengurangi pengangguran.
  5. Pengadaan pusat pelatihan kerja. Pusat pelatihan kerja akan membantu menyiapkan pencari kerja agar lebih siap ke dunia kerja.
  6. Membekali keterampilan bagi tenaga kerja. Keterampilan akan sangat bermanfaat bagi pengangguran. Dengan adanya keterampilan, pengangguran bisa membuka usaha sendiri selama belum mendapat pekerjaan.
  7. Meningkatkan mutu pendidikan. Dengan pendidikan yang semakin berkualitas, maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan pun semakin luas.
  8. Mengadakan bursa pasar kerja. Bursa kerja akan sangat membantu pencari kerja untuk mendapatkan informasi mengenai lowongan pekerjaan.




































KESIMPULAN


Pengangguran adalah problem yang terus menumpuk.Bertambah dari tahun ke tahun.Persoalan pengangguran bukan sekedar bertumpu pada makin menyempitnya dunia kerja, tetapi juga rendahnya kualitas SDM (sumber daya manusia) yang kita punyai.
Beberapa masalah lain yang juga berpengaruh terhadap ketenagakerjaan adalah masih rendahnya arus masuk modal asing, perilaku proteksionis sejumlah negara-negara maju dalam menerima ekspor komoditi,
Disamping masalah-masalah tersebut diatas, faktor-faktor seperti kemiskinan, ketidakmerataan pendapatan karyawan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik juga sangat berpengaruh terhadap ketenagakerjaan di Indonesia.
Semua permasalahan hal diatas tampaknya sudah dipahami oleh pembuat kebijakan (Decision Maker). Namun hal yang tampaknya kurang dipahami adalah bahwa masalah ketenagakerjaan atau pengangguran bersifat multidimensi, sehingga juga memerlukan cara pemecahan yang multidimensi pula.





























DAFTAR PUSTAKA

·         Drs. Islamy, M. Irfan, MPA. 1988. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta : PT. Bina Aksara.
·         Jawa Pos. Kamis 27 Maret, 2008.Atasi pengangguran, Butuh Sinergi, Hlm.9.
Dumairy, 1996. perekonomian indonesia, Penerbit Erlangga:Jakarta
·         H amir, amir. 2007, Perekonomian Indonesia (dalam prespektif makro), Penerbit Biografika:Bogor






























1 komentar:

  1. Blackjack and the House - Mapyro
    Blackjack and the House is 파주 출장샵 a casino game 동두천 출장마사지 in which the player can try to win tricks of up 상주 출장안마 to 당진 출장샵 seven-to-seven-ways. Players can also try to make money by 시흥 출장마사지 playing with a

    BalasHapus